Day 7 | Aku Yakin






Tidak aku sangka waktu berjalan dengan sangat cepat, ketika aku sadari perasaan ini tetap saja ada ketika harus berkali-kali mendengar kabar bahwa Rangga sudah menemukan apa yang rangga cari sejak dulu. Menemukan hal yang rasanya sudah aku berikan pada rangga, namun entah apa yang menutup matanya sehingga rangga sama sekali tidak melihat apa yang telah aku berikan padannya. Rangga sama sekali tidak melihat aku yang selalu ada untuknya, selalu mensupportnya, pada akhirnya aku hanya akan menjadi hal yang terakhir ia pikirkan atau bahkan lolos saja dari pikirannya.

Aku teringat beberapa hari lagi Rangga akan ulang tahun membuat aku memutar otak untuk memberikannya kado special, kemudian aku membelikannya sebuah jacket berwarna abu-abu. Mencari hampir seluruh mall untuk mencari pilihan yang tepat, aku memilih untuk membelikannya jacket berwarna abu-abu yang tengah bertepatan dengan buy one get one dimana aku akan memilikinya juga. Aku sangat senang dan tidak sabar untuk memberikannya, jacket sederhana yang akan aku buat sentuhan cinta pada sablonan yang aku buat dengan tanganku sendiri.

Setelah sampai rumah aku membuat design simple membentuk sebuah huruf 17 dibagian dada sebelah kiri, aku berfikir dia akan selalu ingat padaku dengan aku menuliskan tanggal lahirku didekat detak jantungnya. Yang kemudian aku melumurinya dengan cat berwarna hitam agar tercetak tanggal lahirku yang kemudian aku memberikan sentuhan glitter silver. Karena bahannya terlalu tipis  membuat hasil akhirnya sedikit berantakan, tapi aku harap ini tidak akan berpengaruh  pada diri Rangga. Hari ulang tahunnya semakin dekat walaupun dalam 2 minggu lagi dan aku tidak kuasa menahan diri untuk bertemu memberikan kado ini pada Rangga, jacket simple namun penuh cinta.

Namun selang beberapa hari sebelum ulang tahunnya, kabar berhembus lagi dari foto yang Rangga pajang di salah satu akun sosmednya. Rangga bersama seorang gadis berjilbab tersenyum manis menatap kamera, rasanya hatiku mulai berhenti berdetak. Ada sesuatu yang terjadi pada Rangga, dia sudah menemukan apa yang dia cari dan itu bukan aku. Perasaan ku kembali dicampur adukkan dengan keadaan aku yang lain yang moodnya turun drastic, mengingat kembali usaha-usaha yang telah aku lakukan untuk rangga yang tidak berbuah sama sekali.

Jantungku mulai berdetak dengan pelan seiring mengikuti alur waktu yang kembali kemasa lalu dimana aku rela untuk tetap diam dalam penantian  yang tidak berujung ini, rangga bahkan sama sekali tidak melihat betapa aku mencintainya dari rangkaian tulisan yang aku buatkan untuknya. Dari setiap kata-kata support yang aku berikan seolah aku ingin menjadi satu hal yang kamu perlukan ketika kamu merasa sangat down dan menemani kamu lagi ketika kamu semangat.

Rasanya aku yang lain sudah mulai lelah dengan bukti-bukti kalau ternyata aku yang lain selama ini salah, aku yang lain mempertahankan orang yang sama sekali tidak mempertahankan aku. Dan rasanya hampir 3 tahun dalam keadaan yang campur aduk antara rasa percaya dan masih adanya harapan aku dan Aku yang lain sepakat untuk belajar menyadari bahwa Rangga bukanlah orang yang tepat untuk diperjuangkan, aku dan aku yang lain sepakat untuk menerima kenyataan dan sepakat untuk membuka jalan untuk orang lain masuk.

Ternyata aku memberikan kado itu tidak tepat, rangga selalu tidak bisa dan setelah beberapa kali aku memintanya dia akhirnya mau untuk bertemu denganku. Disalah satu malam, Rangga datang dan menungguku didepan rumah, sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan pada Rangga namun aku tidak mungkin menyerah pada kesepakatan aku dan aku yang lain. Aku tidak dapat merasakan detak jantungku yang rasanya begitu cepat, aku lekas mengambil paper bag coklat dan segera keluar rumah untuk bertemu dengan rangga.

Rangga memasang wajah herannya ketika melihatku, aku tidak dapat melihat jauh kedalam matanya aku hanya menatap angin malam  yang mulai dingin. Aku langsung memberikan paper bag coklat itu kearahnya agar segera dia ambil dan dengan sangat cepat segera mengatakan ucapan ulang tahun, maaf dan terima kasih. Aku pun langsung bergegas pergi kedalam rumah, segera mengintipnya dari celah jendela. Ini adalah pilihan yang sangat sulit, ketika aku masih mencintaimu tapi aku harus melupakanmu demi menyembuhkan rasa sakit yang sudah menjalar keakar hatiku. Dan kado itu adalah salam terakhir dariku. Aku dapat melihat isi dari papar bag itu, menyimpannya kembali. Perlahan mengambil ponselnya dari saku dan mengetik sesuatu dan menyimpannya kembali kesaku dan segera melajukan kembali motornya. Aku pun mendapat sebuah pesan singkat dari Rangga yang isinya hanya ucapan terima kasih.

Beberapa hari kemudian adalah hari ulang tahunku, aku sama sekali tidak berharap bahwa rangga akan mengucapkannya namun setelah malam datang, sesuatu kejadian  mampu sedikit membalikkan lagi perasaanku. Tanpa ku sangka, rangga mengirimkan aku sebuah pesan singkat untuk segera keluar rumah disusul dengan teman SMP ku yang juga memintaku untuk keluar rumah. Aku pun segera pergi keluar rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar sana.

Aku melihat laki-laki berjalan dibawah kegelapan, aku sama sekali tidak dapat memastikannya karena kegelapan sudah hampir menguasai langit karena memang pasa saat itu jam sudah menunjukkan 10:00 malam. Laki-laki itu terus berjalan kearahku, postur tubuhnya seperti rangga  namun setelah beberapa langkah dariku dan laki-laki itu tersinari oleh lampu jalan aku dapat mengenalinya. Dia adalah Satya sahabat Rangga. Kemudian satya memberikanku sebuah plastic berwarna merah, aku sudah bisa menebak ini adalah kado dari rangga yang dititipkan kepada satya untuk mengantarkannya. Tapi tunggu, kenapa rangga tidak mengantarkanya sendiri.

Setelah aku masuk kedalam kamar, aku segera membalas pesan singkat dari rangga, menanyakan mengapa tidak dia yang mengantarkannya. Ia mengatakannya seolah-olah aku mendengarkan suaranya. Ternyata rangga sedang tidak ada dikota ini. perasaan itu bergejolak lagi ketika aku membuka kado yang dibungkus dengan kertas kado berwarna hijau dan kuning. Aku melihat ada sebuah kertas yang di lipat kemudian aku membacanya, dengan boneka teddy bear berwarna hijau terang walaupun bukan warna kesukaanku aku tetap menyukainya.

Tentu saja aku yang lain sangat senang, bahkan kepercayaannya menaik melihat kesempatan yang rasanya muncul lagi.  Namun aku berbeda, aku memilih untuk tetap menjaga jarak dan tidak boleh goyah sedikit pun karena aku percaya semua hal besar berasal dari hal kecil yang dimulai dengan keteguhan hati yang kuat.

Dan aku mulai percaya bahwa aku mampu melewati semua ini walaupun butuh waktu yang cukup lama. Dari langkah awal yang penuh dengan keyakinan walaupun hanya aku yang berusaha, aku yakin akan selalu ada cara untuk mencapainya. Ketika aku yakin untuk terus bertahan akan ada saatnya aku yakin untuk melepas apa yang tidak memperjuangkanku juga, karena ku tau bertahan dalam kesendirian itu sulit.


#NulisRandom2017

Komentar