Day 8 | Datangnya Jingga










Rangga membuat aku yang lain selalu kegelisah ketika malam datang, bayangannya hampir setiap malam mengganggu.  Membaut aku mengingat kembali hal sulit yang terkadang begitu sakit untuk diingat, namun aku yang lain kembali tidak perduli atas rasa sakit yang masih membekas. Setiap kata-kata dan setiap puisi yang tercipta hanya akan membuat Rangga semakin tinggi dan tidak perduli, iya hanya akan membacanya kemudian melupakannya seolah hanya menjadi angin lalu.

Semuanya berubah ketika aku melihat sosok yang selalu melintas ketika azan ashar berkumandang, laki-laki itu melintas disebrang kelasku dengan begitu aku bisa memandanginya dari jauh sampai titik dimana aku tidak bisa melihatnya lagi ketika dia masuk kedalam musholla. Pembawaannya sangat tenang dan aku dapat melihat jauh kedalam matanya walaupun aku tidak bisa menatap matanya dari dekat, aku mampu melihat karakternya yang misterius, dan berwatak baik.

Aku mengetahui namanya dari temanku yang seorang anggota osis, namanya adalah Rendy. Namun aku memiliki nama special untuknya yaitu jingga, karena aku hanya dapat melihatnya ketika siang menjelang sore datang. Dia hadir diantara kesejukkan sore dengan hembusan angin yang mampu  membuat hati begitu rileks, aku selalu menunggunya didepan kelas bersama hembusan angin dan langit yang semakin larut menjadi warna jingga. Entah sejak kapan tatapanku jatuh kepadanya, orang yang tidak aku duga akan jadi bagian dari sebuah cerita hidupku dalam sajak dan bait-baitnya.

Dia adalah kakak kelasku, tepatnya kelas 3 SMK pada saat aku kelas 2 SMK. Dia adalah inpirasi kedua untuk aku menulis, inspirasi kedua untuk aku menggambar walaupun dalam beberapa hal masih kaitannya dengan rangga. Perasaan ini sama-sama akan menggantung seperti perasaanku terhadap rangga, karena sejatinya aku hanya seorang pengagum rahasia. Ketika rahasia itu terbongkar semuanya akan terasa sangat merisihkan kedua belah pihak, karena perasaan ini muncul hanya karena tatapanku yang tiba-tiba jatuh dan berhenti disana hanya sekedar untuk mengagumi.

Perasaan ini sungguh kuat sehingga aku yang lain hanya bisa mengikuti apa yang tengah terjadi padaku, aku yang lain menerimanya walaupun aku tau masih ada rangga yang menetap. Sama seperti pangagum rahasia lain aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh, mencari informasinya dari media sosial, dan memikirkannya sebelum tertidur. Apakah salah menjadi seorang pengagum rahasia yang sangat pengecut untuk mendekatinya ? yang begitu pemalu saat berhadapan langsung dengannya ? yang dengan beraninya menyukai tanpa kenal terlebih dahulu. Bukankah itu hal yang aneh ?.
Aku menyimpan perasaan ini dalam beberapa bulan, merasa sedih ketika hari libur dan ketika aku telat untuk menunggunya melintas walaupun hanya beberapa menit. Dan aku membiarkan semuanya larut begitu saja, dan aku membiarkan namanya aku pajang pada beberapa tulisanku diblog walaupun aku tau beberapa orang akan membacanya dan pasti bertanya-tanya siapakah Jingga itu.

Malam yang begitu kosong, aku perlahan membuka laptopku untuk mengetik sesuatu yang selalu melintas dikepalaku. mengetik hal yang tanpa aku sadari terangkai begitu saja, aku berfikir akan membuat cerbung yang bersumber dari kisah nyataku namun aku menyamarkan beberapa nama untuk membuatnya seolah hanya tulisan fiktif. Aku membiarkan jemariku untuk menari-nari diatas huruf-huruf yang kutekan, sampai pada akhirnya pikiranku terhenti pada pertengahan halaman ke tiga ketika aku melihat page dikolom kiri bawah yang  berada pada layar. Seketika pikiranku kembali kepada rangga yang begitu mudahnya masuk kedalam pikiranku, apa kerena aku yang lain membiarkan pintu itu terbuka setiap saat dan dengan begitu rangga bisa selalu masuk kapan pun.

Aku yang lain masih yakin bahwa rangga adalah orangnya, namun disisi lain aku pun yakin bahwa kak jingga adalah orang yang ku maksut walaupun dalam kenyataannya  semua ini butuh waktu dan pada saat ini aku rasanya bukan waktu yang tepat. Setelah ribuan kali mencoba dan terus berusaha, mengapa aku harus mencoba kembali pada seseorang yang rasanya meragukan ?.

Rangga mengajarkan aku bahwa malam adalah saat ternyaman, dimana semua isi kepalamu berterbangan, dimana hanya ada aku, pemikiranku juga sunyinya malam. Rangga memberitahu bahwa malam adalah teman yang begitu hangat juga dingin, teman yang siap menemani kesendirianmu, dan malam juga bagian gelap dari dirimu.

Dan kak jingga mengajarkan ku bahwa sore adalah waktu yang tepat untuk merilekskan diri, menerima sinar mentari pada detik-detik sebelum ia terbenam. Kak jingga mengajarkanku untuk mendengarkan lambaikan dedaunan yang melambai lembut yang dihembuskan angin sore ketika burung-burung pulang untuk mencari makan. Kak jingga mengajarkan aku bahwa berakhirnya hari itu bisa sangat indah walaupun sinarnya akan tenggelam, dan membuat aku percaya esok ia akan datang lagi.

Dan kak jingga mengajarkan aku bahwa diujung hari juga bisa sangat indah dan menyenangkan hanya dengan aku melihatnya melintas.

Aku harap dengan datangnya kak jingga membuat aku bisa lupa sepenuhnya dari pengaruh rangga yangtidak hentinya memberikan harapan pada aku yang lain.


#NulisRandom2017

Komentar