Day 9 | Apa Aku Harus Membenci Malam ?









Mungkin satu buah tulisan hanya mewakili satu perasaan pada suatu waktu, kerena terkadang tulisan itu mengalir begitu saja setelah aku membuka layar kosong dari Microsoft word. Malam ini aku terlintas satu ide untuk melanjutkan kembali tulisan yang belum selesai, aku berfikir akan membuatnya dalam trilogy namun masih dalam inti cerita yang sama. Ide ini meluncur begitu saja, aku hanya menerima dan menerjemahkannya dalam sebuah tarian jemariku diatas keyboard. Malam ini aku hanya bisa menulis cerbung yang sangat-sangat bisa ditebak akhir ceritanya, dan aku merekayasanya agar beberapa orang tidak terlalu curiga kepadaku.

Jam dinding pun sudah menunjukkan pukul 11:00 malam, mungkin 3 halaman sudah cukup untuk aku post didalam blogku dan bersiap untuk tidur. Tiba-tiba pikiranku terhenti pada suatu hari dimasa lalu, ketika rangga memintaku untuk menemaninya mengikuti salah satu lomba. Jantungku rasanya berhenti berdetak, ketika menyusuri jalanan yang gelap dan cukup lama setelah menembus kemacetan. Rangga memintaku untuk menemaninya mengikuti lomba marawis malam itu, aku tentu saja mengiyakannya. Merasa menjadi orang asing yang berada disekumpulan teman-temannya dan tentu saja tanpa malu dia mengenalkan aku pada semua temannya, hingga salah seorang gadis selalu tersenyum kepadaku dengan ramahnya memperkenalkan diri. Dia bernama Ayu. Aku tau gadis ini adalah gadis yang pernah bertengger pada diplay picture akun sosmed Rangga.

Waktu memang terasa sangat lama, namun aku tenang ketika melihat wajah rangga yang rasanya begitu bangga mengajak aku untuk mengetahui dunianya, teman-temannya dan menyemangatinya saat lomba. Tentu aku sangat ingat ketika dengan mudahnya anggota tim lombamu berganti baju bukan diruangan tapi diluar sisi masjid, aku dapat melihat betapa lucunya  tingkah Rangga yang kemudian berubah ketika rangga sudah menggunakan kostum berwarna hijau muda. Rangga memintaku untuk berfoto dengannya yang jauh lebih tinggi dari aku yang tingginya setengah dari lengan atasnya, betapa pendeknya aku berdiri disampingnya.

Ketika Rangga bergabung dengan timnya dibelakang panggung aku memilih untuk terus berdekatan dengan Ayu, dan teman-teman rangga terus mengejek aku yang akrab dengan Ayu yang nyatanya adalah mantan dari Rangga dan itu membuat aku sedikit risih. Setelah lomba selesai sebelum bersiap-siap untuk pulang, aku harus menunggu sebentar untuk meyakinkan semua tim Rangga aman. Aku dapat melihatnya dari kejauhan membawa sebotol air mineral menuju kearahku dengan jaket yang aku berikan, rasanya seperti mimpi.

Dia mengantarkanku pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 01:00 pagi. Dan ternyata Bapakku sudah menunggu aku didepan rumah, dengan rasa santainya rangga menuruni motornya dan segela berjalan kearah Bapakku dan meminta maaf karena telah membawa aku sampai larut malam. Aku sungguh heran mengapa wajah bapak rasanya biasa saja ketika aku pulang larut malam, apa karena rangga telah melakukan atau mengatakan yang mampu membuat bapak seolah yakin jika aku tidak diapa-apakan.

Karena rangga adalah laki-laki pertama yang bertemu dengan bapakku dan juga mamaku, dia yang pertama mampu membuat aku seolah rela untuk mencintainya ribuan kali. Rangga laki-laki pertama yang membuat aku seolah yakin bahwa dia adalah masa depanku, laki-laki impianku, aku tidak tau isi hatinya rangga sangat misterius untukku. Tapi sekarang aku sadar bahwa aku harus memberikan kesempatan lain untuk orang lain yang berkemungkinan menggantikan posisi rangga, menutup kemungkinan aku membuka peluang lagi rangga untuk masuk dan mengacak-kacak kembali perasaanku.

Aku tidak tau bagaimana aku bisa berkenalan dengan Kak reno yang bersahabat dengan Kak rendy, aku mendiskusikan blogku dan isinya. Kak reno mengatakan bahwa blogku tampilannya menarik dengan music yang otomatis terplay ketika halamannya terbuka, dan kemudian Kak reno bertanya tentang cerbung yang aku buat bahkan kak reno mengetahui bahwa aku menyukai kak rendy sahabatnya. Ia mengetahui beberapa tulisanku dibuat untuk kak rendy dan entah dia beberapa kali membaca blogku, membuat aku terkadang lepas dari control dan menceritakan aku yang tengah diam-diam menyukai kak rendy.

Kak reno adalah sahabat kak rendy, yang selalu menemani kak rendy berjalan kearah musholla sekolah. Yang berdiri bersama kak rendy dilantai kedua ketika aku pergi untuk mengikuti lomba paduan suara, tatapan itu sangat mengherankan entah apa yang mereka lihat namun rasanya mereka memperhatikanku. Begitu pun saat aku menempelkan nomor peserta ujian dikelas 12 MM, aku memasuki kelas Kak rendy dengan perlahan. Pasti akan sangat mengagetkan jika ternyata kak rendy ada dikelas, aku pasti akan terlihat sangat grogi, sampai beberapa menit kemudian aku melihat beberapa orang datang dari kaca jendela, aku mengenalinya. Dengan segera  aku mempersiapkan diri agar tidak terlalu bertingkah aneh, kak rendy dan kak reno pun masuk namun aku terus membuang wajah, aku hanya melihat kak reno walau sekilas sebelum keluar dari ruangan itu.


Ketika malam datang dan semakin larut, pikiranku berpindah tempat dan aku yang lain mulai terpengaruh untuk berfikir tentang rangga. Membuat pikirannya selalu berputar-putar, mencampur adukkan perasaan yang tak menentu, membuat aku sangat membenci malam namun lagi-lagi aku yang lain tidak mengizinkan badanku untuk beristirahat. Tapi terkadang aku sangat menyukai malam yang begtiu tenang sama seperti pertama kali rangga mengajakku makan diluar untuk pertama kali dan pertama kalinya dalam hidupku. Harushkan aku membenci malam ?


Dan setiap malam tiba, aku tidak bisa berhenti memikirkan rangga. Apa aku harus membenci malam ?.


#NulisRandom2017

Komentar