Kamu, Malam Dan Hujan



Kamu , malam dan hujan


Kamu adalah yang aku nanti setiap sabtu malam, merelakan diri untuk diterpa angin malam yang akan mendinginkanmu. Melajukan roda seiring dengan detak jantungmu yang semakin hebat berdetak, sama seperti detak jantungku yang berkejaran dengan detik yang menunggumu untuk datang. Malam sangat cepat berlalu, secepat detak jantungku yang tidak sabar untuk bertemu dengan obat rindu yang paling ampuh hanya sekedar untuk meringakannya.

Tanganku tak berhenti menggenggam handphone-ku yang tidak kunjung berdering, dan kakiku seakan resah menunggunya. Detak jantungku semakin berkejaran hebat, berkejaran dengan perasaan resah yang semakin menjadi-jadi. Detak jantungku seakan berhenti ketika kudapati namanya muncul dalam notifikasi yang muncul dilayar handphone-ku . He is here.

Detka jantungku seakan semakin tidak terarah, rasa rindu sedikit terkikis disetiap detiknya saat aku berada didekatnya. Dia selalu tidak berhenti untuk menanyakan kemana tujuan yang akan kita tuju, dan aku selalu menjawabnya dengan tawa seolah aku hanya mengiyakan kemana kita akan pergi. Karena tentu saja aku ingin pergi kemana pun asalkan bersama dengannya.

Dia seakan mengerti rasa rinduku, yang walaupun terkikis sedikit demi sedikit setiap detiknya tapi tetap saja rindu ini tetap menggunung. Iya membelokkan kaca spion yang berada disebelah kiri dan dengan begitu aku dapat melihat wajahnya, laki-laki yang sebelumnya tidak berkaca mata sampai memilih untuk berkaca mata. Aku bisa sangat jelas memandangnya ketika dia tengah serius mengendarai laju roda yang terus berputar, aku bisa sangat jelas melihatnya ketika ia menoleh kearah spion dan tersenyum.

Aku selalu senang ketika duduk berada didepannya, seolah aku mampu melihat wajahnya dengan jelas, ekspresinya juga tatapan matanya. Rindu masih terus terkikis seriring waktu yang berdetik dan cinta bertambah dari rangkaian huruf-huruf yang menjadi sebuah kata-kata yang tercurahkan diantara kita. Aku bisa melihat kedalam matamu yang seolah menyiratkan sebuah kata cinta, aku bisa melihat senyum dan tawamu yang seolah menjadi hal yang membuat aku turut ikut dalam kebahagiaan.

Sampai rasanya waktu mengambil alih semuanya, hingga rasanya tidak ada  yang bisa dilakukan selain menatapnya dan tersenyum seolah tidak ada kata pun yang mampu mengartikan perasaanku, seolah tidak ada kalimat pun yang dapat aku ucapkan kecuali senyuman. Aku berkali-kali mencoba membuang pandanganku kejendela, lagi-lagi berharap jika ini bukanlah sebuah mimpi yang hanya sesaat. Getaran ini tidak pernah berhenti ketika aku bersamanya, tetap bergetar setiap detiknya seolah memberikan aku rasa untuk terus tersenyum, tertawa dan bahagia. Dapatkah dia merasakannya, ketika tanpa sadar aku memperhatikannya dari kaca spion, memperhatikannya ketika ia sedang memainkan handphonenya tanpa ia sadari, membuang tatapanku ketika ia memandangku. Aku sungguh tidak mampu menahan rasa yang tidak dapat aku pahami.

Seketika perasaanku semakin tidak karuan ketika ia mengatakan hujan telah turun dari langit kota Tangerang, rasanya aku semakin ingin terus berada didekatnya. “Gak apa-apa hujan yang penting hati kamu jangan !”. Kata-katamu yang seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja ketika hujan akan membasahi kita ketika melaju dijalanan kota Tangerang, dan tatapan matamu seolah merayuku untuk ikut turut tersenyum bersama senyumnya yang mampu membuat aku menghiraukan semuanya.

“Ayo pulang, kali-kali hujan-hujanan sama aku !”, ajakkan yang  tidak mampu aku tolak. Seolah tanganmu menarikku untuk turut menari dibawah rintik hujan yang turun pada pukul 10 malam, aku dapat merasakan jemarimu diantara jemariku yang mulai dingin. Menarikku cukup kencang sehingga aku sedikit berlari untuk mengejar waktu yang tengah berkejaran dengan jutaan rintik hujan yang turun, aku merasa kebahagiaan yang selalu dia salurkan dari berbagai cara yang ia lakukan.

Ia memberikan aku jaket biru tuanya yang kebesaran yang membuatnya tertawa dan aku hanya dapat tersenyum, dan dia tidak mengetahui bahwa aku sangat bahagia. Dia tidak tau bahwa aku merasa seperti tokoh utama dalam sebuah novel dan kamu yang rela hanya mengenakan kemeja sebagai tokoh yang selalu dielu-elukan pembaca perempuan, aku merasa berada didalam sebuah mimpi atau didalam sebuah cerita cinta.

Dia mulai menyalakan mesin motornya dan segera melaju dengan kecepatan yang cukup membuat tetes hujan menghujam wajah.  Kaca spionnya masih mengizinkan aku untuk menatap wajah seriusnya yang tengah mengendarai dibawah rintik hujan yang semakin lebat, hujan yang semakin lebat membuatnya harus menambah kecepatan.  Aku memeluknya ketika dia berkali-kali mengerem mendadak, aku sangat takut. Takut akan kejadian yang bisa saja terjadi ketika hujan datang dan membuat jalanan menjadi sangat licin, namun ada sebuah perasaan yang membuatku percaya bahwa kamu tidak mungkin membawa aku dalam bahaya.

Aku memeluknya cukup erat, seolah tidak membiarkan hembusan angin berada diantara aku dan dia. Aku dapat merasakan pelukkannya, pelukkan dari sebuah jaket biru tua kebesaran yang tengah aku gunakan, hujan pun semakin lebat turun memaksakan para pengendara yang tidak mengenakan jas hujan untuk menepi. Dia membelokkan arah motornya untuk menuju minimarket terdekat untuk menggunakan jas hujan. Rasanya aku tidak ingin lepaskan pelukkan ini, pelukkan dari jaket biru tua kebesaran yang tengah aku pakai namun aku tidak mungkin membiarkannya basah kuyup terguyur rintik hujan yang semakin lebat. Iya memberikan aku potongan atas dari jas hujan dan memberikan jaket biru tua untuk iya pakai walaupun aku berfikir seharusnya dia yang memakai potongan atas dari jas hujan karena aku tau dia yang akan di terpa butiran hujan yang turun, aku menolak menggunakan potongan bawah dari jas hujan yang kemudian dia yang menggunakannya.

Aku merasa sangat dekat dengan dia. Aku, kamu, malam dan hujan. Aku yang tengah begitu bahagia bisa menghabiskan malam dengan obrolan ringan dan hangat  yang tidak menyadari bahwa hujan telah turun pada malam hari di kota Tangerang, menikmati menu penutup sebagai hidangan pembuka bersama. Aku merasa sangat dekat dengan dia, setelah menghabiskan beberapa jam hanya sekedar bertatap muka untuk mengutarakan rindu yang sempat menggunung. Aku merasa sangat dekat dengan dia, yang memberikan jaket biru tua kebesaran kemudian memakaikan aku helm dengan tidak rapi yang disusul dengan tawa. Aku merasa sangat dekat dengan dia, yang mengajarkanku cara menghindari cipratan air pada saat melewai genangan air dijalan yang membuatku berkali-kali tertawa.

Rintiknya semakin mereda, mengizinkan para mengemudi motor untuk melanjutkan lagi perjalanan.  Dia mulai kembali menyalakan mesin motornya dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan pulang, aku kembali memeluknya seolah perasaan ini menyadari bahwa rindu akan kembali menggunung. Dia membenarkan kembali kaca spion sebelah kiri sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dari kaca spion, aku semakin takut bahwa malam ini akan segera berakhir dengan sangat cepat.

Hujan mereda, perasaanku tak kunjung reda untuk kembali merindu. Beberapa meter lagi menuju rumahku, aku ingin sekali mengulang waktu agar terasa jauh lebih lama, jauh mengikis rindu hingga ke bawah karena malam ini hanya mampu mengikis rinduku setengah. Aku tidak ingin berpisah dan merindu kembali, membicarakan banyak hal, tertawa tanpa sebab dan menatap satu sama lain.  Ada hal yang salah denganku dalam mengontrol rasa rindu yang tidak dapat aku pahami, mungkin akan terdengar sangat aneh karena aku pernah merindu tanpa pernah dirindukan.

Ia menghentikan mesinnya tepat berada didepan rumahku dan jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.  Aku membuka potongan atas jas hujan dan memberikan padanya untuk dipakai. Rasanya tidak rela membiarkannya pergi lagi, pergi ke kehidupannya sehari-hari, pergi dan berjanji akan bertemu kembali. Dan pertemuan berikutnyalah yang aku nanti.

Karena dia adalah hal yang mampu membuat aku merasa tenang disetiap dia mengucapkan sebuah kata-kata
Diam-diam memperhatikannya dari kaca spion dan tidak bisa untuk berhenti tersenyum dan tertawa
Melihat matanya dari balik kaca matanya
Melihat senyum dan tawanya yang seolah mampu menghipnotisku untuk ikut terbawa suasana
Jemarinya yang mampu membuat aku sangat tenang

Banyak alasan mengapa aku menyukai dia karena dia adalah hal yang sangat aku butuhkan
Dan malam yang berkali-kali membuat perasaanku sangat damai dan merasakan hujan dimalam hari bersamamu

Karena dia, malam dan hujan adalah hal yang aku sukai dan aku akan terus mengingatnya.




Komentar