Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Kataku

Seperti yang pernah aku katakan, aku takut rasa ini semakin kuat mengikatku sehingga aku tidak bisa bernafas. Namun kamu adalah udaraku, senyummu adalah matahariku, matamu adalah malamku dan ketika kamu berada disampingku adalah senja yang selalu indah.Kataku, aku begitu takut kehilangan. Kehilangan harta yang paling berarti, harta yang sulit dicari kembali, harta yang ingin aku jaga sepenuh hati. Jika hilang, maka ada yang hilang pula dari diriku. Kenangan indah yang sudah terlewati akam terasa begitu pahit bila dikenang, namun terlalu manis untuk dilupakan.Kataku, aku begitu sangat mencintaimu. Namun aku tidak begitu kuat untuk cinta yang sangat kuat ini. Terasa berat jika aku membawanya seorang diri, karena aku tau bukan hanya aku yang jatuh hati. Aku juga ingin mengakui diri yang tidak tau diri yang selalu minta diberi.Kataku, aku terlalu bodoh untuk kamu yang terlalu pintar menyembunyikan rasa. Rasa ini terlalu membeludak, sesakkan dada dan membuat aku ingin meledakkannya. Atau m…

Memelukmu Dalam Resah

Setiap detik yang terdengar membuat aku semakin takut tentang resah yang semakin membuat aku gundah, memang terdengar terlalu dilebih-lebihkan. Tapi coba pahami kata-kata yang tengah aku coba ucapkan ketika rasanya aku terlalu sulit untuk membuka penutup kantung hati ini, karena aku takut akan membanjiri bumi yang tengah kamu tapaki.Hingga tak kusadari jarak ini membuat aku semakin takut, tentang jarak yang mereka bilang 'hanya' tapi yang kurasa ini lebih dari sekedar kata itu. Jarak yang mereka bilang itu mendewasakan, tapi yang aku rasakan kehancuran. Merasa hancur kala jarak meyakinkan dirinya bahwa ia bebas dapat terbang kemana pun ia mau.Tapi sebenernya, aku yang hanya ingin dimiliki ini memang tidak bisa memaksa. Memaksa yang ingin terbang tinggi untuk berada dibawah dan membumi, aku tidak mau memakan rasa kesalku yang malah membuat aku menjadi sulit bernafas.Dalam resah yang bertambah gundah, aku ingin memelukmu. Aku ingin memeluk waktu berdetik yang berada sebelah kiri…

Untuk Kamu Yang Tengah Aku Cintai

Aku tidak dapat merangkai kata-kata seindah warna jingga kala mentari mulai tenggelam, aku pun tidak dapat merangkai rasa seindah rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi angkasa. Aku hanya dapat merangkai kata dari udara yang kau hirup,  terus menerus ada didalam hidupmu.Aku tidak berjanji akan secerah mentari, namun aku berjanji akan selalu menjadi hal yang mampu membuatmu merasa tetap hidup. Karena aku tidak perlu lagi berlari, aku tidak perlu lagi bersembunyi dari hal yang aku takutkan akan dirimu.Aku yang tengah mencintaimu saat ini, menginginkan kamu untuk selalu ada walau tidak selalu berjumpa. Menginginkan kamu untuk tetap perduli tanpa pemaksaan, ketahuilah aku sempat berfikir ingin memilikimu selamanya. Tapi aku tidak mau sesombong itu.Perasaan ini yang tumbuh bersama waktu, yang berkembang bersama karena saling melengkapi. Dan berharap waktu tidak akan pernah berhenti agar kita selalu bersama.

Aku Akui

Tanganmu mulai mengetuk lagi
Yang sebelumnya sudah kubilang jangan ulang lagi
Aku sempat ingin berlari
Tapi tak sampai hatiKetukkan itu membuat aku teringat lagi
Semua kejadian yang sudah kita alami
Semuanya sangat melekat dihati
Semua rasa yang pernah kau beriKetukkan itu membuat aku teringat lagi
Manisnya janji-janji
Dirimu yang melarangku pergi
Walau tanyanya kini kau yang pergiKemana semua rasa yang kau akui
Mudah datang dan mudah pergi
Rasanya kamu memang sudah tidak perduli
Atau emang sudah tidak punya hatiIngin rasanya aku berlari
Tapi bayangmu selalu menghantui
Ingin rasanya aku berhenti perduli
Tapi hati ini tidak dapat berhentiSeperti udara yang aku hirup berkali-kali
Bayangmu pun ikut menghampiri
Tak bisa aku lepaskan dari pikiran dan hati
Kalau kau memang sungguh berartiApa aku harus cari pengganti
Yang dapat mengerti
Yang dapat membereskan hancurnya hati
Yang ditinggal pergiAdakah orang yang seperti itu lagi
Bukan yang mudah datang dan pergi
Tapi yang dapat menggenggam j…